06
Des
06

CONFLICT IN THE ORGANIZATION

Rahmawan D. Prasetya, S.Sn., M.Si.

Konflik telah didefinisikan sejauh ini dengan berbagai cara. Kadang-kadang digambarkan sebagai perilaku kompetitif (bersaing) atau agresif. Konflik sering dikatakan melibatkan persepsi interpersonal dan perasaan permusuhan. Menurut Deutsch (1971;1980), konflik adalah mekanisme psikologis dasar yang  berpusat disekitar tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Konflik hadir kapan saja ketika satu perangkat tujuan, kebutuhan, atau minat tidak sesuai dengan perangkat yang lain. Dengan definisi ini, kita terhindar dari masalah konflik yang membingungkan dengan metode pemecahannya, dan kita mengakui bahwa outcome yang dihasilkannya dapat negatif maupun positif.Meskipun pandangan para pemikir pada awalnya adalah bahwa konflik merupakan hal yang tidak diinginkan, kehidupan kita sekarang ini menunjukkan bahwa kita justru secara aktif mencari konflik. Apakah ini tidak berarti kita adalah seorang yang Masochistik? Boleh jadi ini berarti bahwa konflik tidak selalu bersifat destruktif (merusak) dan tidak nyaman. Kebanyakan orang diantara kita menghargai aktifitas yang melibatkan konflik, dari permainan-permainan kompetitif sampai debat dan diskusi yang bersifat intelektual. Kita telah melembagakan konflik dalam bisnis, politik, dan olah raga. Konflik adalah merangsang, membangkitkan, dan menggairahkan; dan ia memiliki outcome yang positif. Konflik dapat digunakan untuk memberi kekuatan tindakan fisik pada kerja. Ia memberikan suatu saluran untuk pemecahan masalah dan membentuk dasar dari perubahan sosial. Konflik juga memiliki outcome negatif. Tujuan yang tidak dicapai, komunikasi tertutup, dan sikap-sikap permusuhan dapat dihasilkan. Konflik dalam suatu kelompok kerja dapat mengganggu atau bahkan membantu kelompok itu sendiri, tergantung pada sifat dari pekerjaan. Ketika kelompok mengerjakan tugas-tugas yang rutin, konflik yang berhubungan dengan tugas mungkin berpengaruh bagi para anggota kelompok untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ketika kelompok mengerjakan suatu tugas yang lebih sulit, seperti membuat keputusan, konflik tentang tugas tersebut dapat benar-benar menolong kelompok itu untuk berhasil (Jehn, 1995).Konflik dapat muncul dalam berbagai tingkatan di dalam organisasi. Bisa saja bersifat intrapersonal atau muncul dalam diri individu, seperti misalnya seseorang yang harus memilih satu di antara dua pilihan, yang sama-sama besar pengaruhnya bagi dirinya. Pada level lainnya, konflik dapat bersifat interpersonal atau antar individu. Jika konflik interpersonal ini terjadi di dalam kelompok, maka konflik ini dapat juga disebut konflik intragrup. Ketika satu kelompok tidak bersepakat dengan kelompok lainnya, konflik intergroup atau intraorganizational dihasilkan. Tentu saja, organisasi sering berada dalam situasi konflik dengan organisasi lainnya, maka terbentuklah konflik interorganizational.


0 Tanggapan ke “CONFLICT IN THE ORGANIZATION”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.