GAYA PERILAKU MANAJEMEN KONFLIK
Teori konflik menyoroti proses manajemen konflik dengan menggambarkan cara individu berperilaku dalam membicarakan dan menyelesaikan konflik. Pada bagian berikut ini, saya mempertimbangkan dua perspektif teori pada proses konflik. Yang satu memandang
gaya perilaku konflik dalam hal hubungan yang dirasakan ada di antara tujuan para pihak. Perspektif lainnya menekankan pentingnya nilai-nilai terhadap masing-masing tujuan para pihak.
Gaya yang Merefleksikan Hubungan Antar Tujuan
Sepakat dengan Deutsch (1973, 1980; Deutsch & Krauss, 1962), hubungan antara tujuan-tujuan pihak-pihak yang terlibat konflik menentukan apakah terdapat suatu konflik. Pihak-pihak yang mungkin merasakan tujuan mereka sebagai independen atau tidak ada hubungannya; dalam hal ini, tidak ada konflik. Jika tujuan dirasakan menjadi interdependen, maka terdapat konflik. Tujuan interdependen mungkin berhubungan dengan salah satu dari dua jalan. Ketika tujuan berhubungan secara positif, pihak-pihak tersebut bergerak pada arah yang sama. Ketika tujuan berhubungan negatif, maka kesuksesan seseorang akan tergantung dari kegagalan yang lainnya. Dalam teori ini, hubungan antar tujuan menentukan
gaya para pihak dalam berinteraksi. Deutsch mengemukakan bahwa tiga
gaya perilaku dapat dihasilkan. Ketika tujuan bersifat individual, perilakunya adalah individualistik; kedua pihak akan berjalan pada jalur yang sama. Ketika tujuan interdependen, para pihak harus berinteraksi. Jika mereka memandang tujuan mereka berhubungan positif, maka mereka berperilaku kooperatif untuk kesuksesan bersama. Jika mereka menganggap tujuan mereka berhubungan negatif, maka mereka akan berperilaku kompetitif.
